Amerika Kembali Diancam Al-Qaeda, termasuk di Jakarta?
Perseteruan antara Amerika Serikat
dengan Al-Qaeda memasuki babak baru. Laporan intelijen AS menyebutkan
adanya kemungkinan ancaman serius terhadap warga dan fasilitas AS di
dunia. Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan travel warning di seluruh
dunia, memperingatkan kemungkinan adanya serangan oleh teroris Al-Qaeda
dan afiliasinya khususnya pada hari Minggu 4 Agustus lalu. Dalam rangka
tindakan preventif dan pencegahan, kedutaan besar AS dan instalasi
lainnya khususnya di Timur Tengah dan Afrika Utara diperkirakan yang
akan dijadikan target serangan tersebut.
Untuk membahas potensi ancaman serangan
teroris, Gedung Putih mengatakan para pejabat diantaranya Menteri Luar
Negeri John F. Kerry, Menteri Pertahanan Chuck Hagel dan penasehat
keamanan nasional Susan Rice berkumpul untuk membahas masalah tersebut.
Selanjutnya dinyatakan, "Awal pekan ini, Presiden menginstruksikan tim
Keamanan Nasional untuk mengambil semua langkah yang tepat untuk
melindungi rakyat Amerika terhadap potensi ancaman yang terjadi di atau
berasal dari Jazirah Arab," kata Gedung Putih.
Perkembangan awal informasi serangan
dideteksi setelah terjadinya serangan dan kerusuhan dibeberapa penjara
yang menahan tokoh-tokoh Taliban dan Al-Qaeda. Kerusuhan disebuah
penjara di Pakistan pada hari Rabu (31/7) mengakibatkan lepasnya ratusan
militan. Pada tanggal 22 Juli 2013, dalam serangan bersenjata
terhadap Lapas Abu Ghraib di Irak menyebabkan sekitar 500 narapidana
lepas melarikan diri, termasuk operator Al-Qaeda. Di Benghazi, Libya,
lebih dari 1.000 narapidana berhasil melarikan diri dari penjara pada 27
Juli 2013.
Interpol menyarankan bahwa sejak
Al-Qaeda diduga terlibat dalam beberapa insiden di penjara,
negara-negara anggota harus waspada terhadap informasi yang mungkin
menunjuk ke setiap koordinasi antara serangan, dan agar mengupayakan
mencari para pelarian. Pada hari Jumat ((2/8/2013) Interpol
memperingatkan peningkatan kewaspadaan kepada wisatawan AS diseluruh
dunia, bahwa jaringan teror Al-Qaeda mungkin akan merencanakan serangan
pada bulan Agustus, khususnya di Timur Tengah dan Afrika Utara.
Jenderal Martin Dempsey, ketua Kepala
Staf Gabungan, mengatakan kepada ABC News bahwa peningkatan kewaspadaan
dan penutupan kedutaan adalah hasil dari "aliran ancaman signifikan yang
lebih spesifik, dan dinilai serius," tegasnya. Menurutnya tujuan
serangan sangat jelas, adalah untuk menyerang Barat, bukan hanya
kepentingan AS.
Sementara Departemen Luar Negeri lebih
menegaskan , "Informasi saat ini menunjukkan bahwa Al-Qaeda dan
organisasi-organisasi afiliasinya terus merencanakan serangan teroris
baik di wilayah ini dan sekitarnya, dan bahwa mereka dapat memfokuskan
upaya untuk melakukan serangan dalam periode antara sekarang dan akhir
Agustus."
Interpol mencatat bahwa kekhawatiran
gangguan keamanan tertinggi bertepatan dengan hari-hari terakhir
Ramadhan, liburan Muslim yang semarak, mengatakan "Itu adalah waktu yang
menarik bagi teroris." Minggu lalu adalah juga ulang tahun simultan
pemboman kedutaan AS di Nairobi dan Dar es Salaam, Tanzania, tahun 1998,
yang menewaskan lebih dari 200 orang. Dan peringatan serangan 11
September (911) terhadap WTC hanya beberapa minggu lagi.
Di Washington, analis di CIA, Pusat
Kontraterorisme Nasional dan lembaga-lembaga lainnya terus menekuni
sinyal, penyadapan dan data lainnya, untuk mencari petunjuk yang lebih
spesifik. "Komunitas intelijen terus mencari informasi tambahan untuk
memberikan wawasan yang lebih baik dan lebih spesifisitas berkaitan
dengan ancaman yang ada," kata seorang pejabat intelijen senior AS
kepada media.
Mengapa mendadak muncul ancaman serius
terhadap AS? Operasi peniadaan para tokoh Al-Qaeda dan Taliban selama
ini terus dilakukan oleh AS dengan menggunakan pesawat tanpa awak
(drones), yang dikendalikan oleh CIA.
Rep. Michael McCaul (R-Tex.), Ketua dari
House Homeland Security Committee menyatakan "Al-Qaeda di Semenanjung
Arab (AQAP, Al-Qaeda in the Arabian Peninsula) mungkin adalah ancaman
terbesar bagi AS. Mereka faksi Al-Qaeda yang masih berbicara akan terus
menyerang Barat dan memukul tanah air (Amerika). Jadi kita berada pada
keadaan siaga tinggi," kata McCaul, dan dia menekankan bahwa ancaman
"sangat dekat."
Mengapa Yaman? Perwakilan Al-Qaeda di
Yaman, yang tokohnya telah menjadi target diserang oleh Amerika dalam
beberapa tahun terakhir, disimpulkan sangat mungkin untuk membalas
dendam tersebut. Mereka yang merupakan afiliasi dari Al-Qaeda kini
menjadi kelompok teroris yang peling berpotensi melakukan serang,
dibantu kelompok luar lainnya. Kelompok ini menyatakan bertanggung jawab
atas kegagalan upaya meledakkan sebuah pesawat terbang dari Detroit
pada hari Natal tahun 2009.
Kemungkinan Imbas Serangan ke Indonesia
Pada masa lalu, antara tahun 2002 s/2009
Indonesia telah menjadi ajang medan perang antara teroris dengan AS
serta negara-negara Barat lainnya. Dari beberapa dokumen yang terungkap
saat perencanaan serangan ke JW Marriott Jakarta, terungkap dua tokoh
teroris asal Malaysia DR Azhari (Alm) dan Noordin M Top (Alm),
menyebutkan target di Jakarta adalah Negara AS, Inggris, Australia dan
Italy. Akhirnya yang dipilih adalah hotel Marriott dan Ritz Carlton
sebagai simbol AS, serta Kedutaan Besar Australia. Target lainnya,
Sekolah Internasional dan kantor City Bank Jakarta batal diserang.
Nah, kini dalam rangkaian informasi
intelijen yang diterima oleh badan intelijen AS, Homeland security, CIA,
FBI dan NSA, memang mereka menyatakan kemungkinan serangan lebih fokus
ke Timur Tengah dan Afika Utara. Akan tetapi sebaiknya pemerintah dan
aparat keamanan di Indonesia juga waspada, karena bukan tidak mungkin
Al-Qaeda atau organiosasi afiliasinya bisa saja menyerang di Indonesia
dimana kasus pemboman pernah terjadi disini.
Kini, didalam penjara di tanah air masih
ditahan beberapa nama besar pelaku teror yang pernah mengikuti
pendidikan di Afghanistan, mereka umumnya dahulu tergabung dalam
kelompok Jamaah Islamiyah. Misalnya Abu Tholud yang dihukum 8 tahun
penjara, dia adalah inisiator pembentukan Al-Qoidah Serambi Makkah
bersama Amir Abu Bakar Ba’asyir (ABB) yang dalam sidang di Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan, Kamis (16/6/2011), divonis 15 tahun penjara oleh
hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan tuduhan terlibat
terorisme. Juga Tony Togar alias Indra Warman (tertangkap dan divonis 20
tahun), yang juga merupakan eks peserta pelatihan militer di Jalin
Jantho.
Selain itu tercatat nama Fadli Sadama
(tertangkap di Malaysia), dipenjara dan berhasil melarikan diri dari
Tanjung Gusta beberapa waktu lalu, terlibat perampokan CIMB Niaga Medan.
Terungkap bahwa uang hasil dari merampok tersebut akan digunakan untuk
mendanai teror untuk menyerang aset-aset asing beserta warga negara
asing yang berada di wilayah Pekanbaru dan Lampung. Nama besar lainnya
yang kini dipenjara adalah Umar Patek, anggota Jemaah Islamiyah,
diyakini menjabat sebagai asisten koordinator lapangan pada saat
pemboman klub malam di Bali, Indonesia pada 2002, yang menewaskan 202
orang, termasuk tujuh warga negara AS. Patek adalah ekstraksi Arab Jawa.
Selain yang tertangkap, ada tokoh yang kini masih bebas dan dinilai sangat berbahaya. Zulkarnaen alias Aris Sumarsono alias Daud, menurut catatan NCTC (National Counter Terrorism Center), Zulkarnaen adalah
salah satu tokoh Al-Qaeda di Asia Tenggara dan merupakan salah satu
dari sedikit orang di Indonesia yang memiliki kontak langsung dengan
jaringan teror Osama Bin Laden.
Dia salah satu dari militan Indonesia
pertama yang pergi ke Afghanistan untuk pelatihan menjadi ahli
sabotase. Zulkarnaen diketahui memimpin sepasukan Laskar Khos disebut
militan, atau "pasukan khusus," yang anggotanya direkrut dari sekitar
300 orang Indonesia yang dilatih di Afghanistan dan Filipina Zulkarnaen
adalah anak didik Abdullah Sungkar, pendiri JI dari pesantren Al-Mukmin
dimana Zulkarnaen dan militan senior lainnya mengikuti pendidikan.
Kepala Zukarnaen dihargai oleh pemerintah AS USD 5 juta.
Zulkarnaen, yang nama aslinya adalah
Aris Sumarsono juga disebut Daud oleh sesama kelompok militan. Pejabat
intelijen AS dan pejabat Indonesia menyatakan bahwa Zulkarnaen menduduki
jabatan sebagai kepala operasi Jemaah Islamiyah (JI) setelah Riduan
Isamuddin (Hambali) ditangkap di Thailand. Dia diyakini telah membantu
mengatur pertempuran di kepulauan Maluku pada 1990-an. Dia diyakini
sebagai pemimpin tim elit yang membantu melaksanakan serangan bom bunuh
diri di Hotel JW Marriott Jakarta yang menewaskan 12 orang pada tahun
2003 dan membantu mempersiapkan bom yang menewaskan 202 orang di Bali
tahun 2002.
Para tokoh yang masih dipenjara dan yang
belum tertangkap bukan tidak mungkin masih berhungan, mengingat dari
beberapa kasus di Lapas, para bandar Narkotika juga terungkap mempunyai
alat komunikasi. Dari beberapa informasi sejak 2009, memang telah
terjadi pergeseran target teroris, mereka tidak menyasar AS dan negara
Barat, tetapi lebih fokus menyerang polisi yang disebut sebagai thagut.
Informasi AS dan Barat lainnya kembali
menjadi target sebenarnya terungkap saat penangkapan kelompok teror yang
menamakan dirinya Haraqah Sunny untuk Masyarakat Indonesia (HASMI)
dengan pimpinan jaringan adalah Abu Hanifah (sudah tertangkap di
Solo). Menurut Kadiv Humas Polri (saat itu Irjen Pol Suhardi Alius),
menjelaskan, "Orientasi kelompok ini adalah Konsulat Jendral Amerika di
Surabaya, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Plaza 89 di depan
Kedutaan Besar Australia di mana ada Kantor Freeport di sana, dan Mako
Brimob di Jalan Srondol, Jawa Tengah," katanya.
Dari fakta penyerangan fasilitas AS dan
negara Barat lainnya, serta masih adanya tokoh teror yang bebas, serta
adanya dokumen ancaman terhadap fasilitas AS, nampaknya kewaspadaan
terhadap keamanan Kedutaan Besar perlu ditingkatkan. Kelabihan kelompok
teror menurut teori perang karena inisiatif ditangan mereka, sehingga
dengan langkah desepsi, mereka sulit dijejaki. Peledakan terahir
terhadap Vihara Ekayana adalah bukti, mereka bisa menyerang target
apapun.
Kini diperlukan kesadaran bersama bahwa
antisipasi Polri dan BNPT dalam menghadapi ulah terorisme saja tidak
cukup, law enforcement tidak bisa menyelesaikan masalah terorisme. Yang
dibutuhkan adalah kesadaran dan keterlibatan masyarakat sebagai early
warning. Para tokoh (key informal individual) perlu dilibatkan untuk menyadarkan mereka yang sudah terkontaminasi.
Kekerasan bersenjata tidak cukup
menyelesaikannya, Amerika dengan teknologi tingkat tinggi (drones)
memang berhasil membunuh para tokoh teror termasuk Osama bin-Laden,
tetapi kini terbukti jaringan Al-Qaeda serta organisasi afiliasinya
kembali menyuarakan ancaman keras yang meresahkan dan mengusik rasa aman
warga AS. Terorisme belum selesai bagi AS, bahkan kini muncul ancaman
baru Home Grown Terrorism. Kita berdoa semoga tidak ada fasilitas asing
kembali diserang di tanah air, yang pasti kita tidak suka Indonesia
kembali menjadi ajang tempur mereka.