Selasa, 13 Agustus 2013

kemunculan ancaman trans international

Amerika Kembali Diancam Al-Qaeda, termasuk di Jakarta?




Perseteruan  antara Amerika Serikat dengan Al-Qaeda memasuki babak baru. Laporan intelijen AS menyebutkan adanya kemungkinan ancaman serius terhadap warga dan fasilitas AS di dunia. Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan travel warning di seluruh dunia, memperingatkan kemungkinan adanya serangan oleh teroris Al-Qaeda dan afiliasinya khususnya pada hari Minggu 4 Agustus lalu. Dalam rangka tindakan preventif dan pencegahan, kedutaan besar AS dan instalasi lainnya  khususnya di Timur Tengah dan Afrika Utara diperkirakan yang akan dijadikan target serangan tersebut.
Untuk membahas potensi ancaman serangan teroris, Gedung Putih mengatakan para pejabat diantaranya  Menteri Luar Negeri John F. Kerry, Menteri Pertahanan Chuck Hagel dan penasehat keamanan nasional Susan Rice berkumpul untuk membahas masalah tersebut. Selanjutnya dinyatakan, "Awal pekan ini, Presiden menginstruksikan tim Keamanan Nasional untuk mengambil semua langkah yang tepat untuk melindungi rakyat Amerika terhadap potensi ancaman yang terjadi di atau berasal dari Jazirah Arab," kata Gedung Putih.
Perkembangan awal informasi serangan dideteksi setelah terjadinya serangan dan kerusuhan dibeberapa penjara yang menahan tokoh-tokoh Taliban dan Al-Qaeda. Kerusuhan disebuah penjara di Pakistan pada hari Rabu (31/7) mengakibatkan lepasnya ratusan militan.  Pada tanggal 22 Juli 2013, dalam serangan bersenjata  terhadap Lapas Abu Ghraib di Irak menyebabkan sekitar 500 narapidana lepas melarikan diri, termasuk operator Al-Qaeda. Di Benghazi, Libya, lebih dari 1.000 narapidana berhasil melarikan diri dari penjara pada 27 Juli 2013.
Interpol menyarankan bahwa sejak Al-Qaeda diduga terlibat dalam beberapa insiden di penjara, negara-negara anggota harus waspada terhadap informasi yang mungkin menunjuk ke setiap koordinasi antara serangan, dan agar mengupayakan mencari para pelarian. Pada hari Jumat ((2/8/2013)  Interpol memperingatkan peningkatan  kewaspadaan kepada wisatawan AS diseluruh dunia,  bahwa jaringan teror Al-Qaeda mungkin akan merencanakan serangan pada bulan Agustus, khususnya di Timur Tengah dan Afrika Utara.
Jenderal Martin Dempsey, ketua Kepala Staf Gabungan, mengatakan kepada ABC News bahwa peningkatan kewaspadaan dan penutupan kedutaan adalah hasil dari "aliran ancaman signifikan yang lebih spesifik, dan dinilai serius," tegasnya. Menurutnya tujuan serangan sangat jelas,  adalah untuk menyerang Barat, bukan hanya kepentingan AS.
Sementara Departemen Luar Negeri lebih menegaskan , "Informasi saat ini menunjukkan bahwa Al-Qaeda dan organisasi-organisasi afiliasinya terus merencanakan serangan teroris baik di wilayah ini dan sekitarnya, dan bahwa mereka dapat memfokuskan upaya untuk melakukan serangan dalam periode antara sekarang dan akhir Agustus."
Interpol mencatat bahwa kekhawatiran gangguan keamanan tertinggi bertepatan dengan hari-hari terakhir Ramadhan, liburan Muslim yang semarak, mengatakan "Itu adalah waktu yang menarik bagi teroris." Minggu lalu adalah juga ulang tahun simultan pemboman kedutaan AS di Nairobi dan Dar es Salaam, Tanzania, tahun 1998, yang menewaskan lebih dari 200 orang. Dan peringatan serangan 11 September (911) terhadap WTC hanya beberapa minggu lagi.
Di Washington, analis di CIA, Pusat Kontraterorisme Nasional dan lembaga-lembaga lainnya terus menekuni sinyal, penyadapan dan data lainnya, untuk mencari petunjuk yang lebih spesifik. "Komunitas intelijen terus mencari informasi tambahan untuk memberikan wawasan yang lebih baik dan lebih spesifisitas berkaitan dengan ancaman yang ada," kata seorang pejabat intelijen senior AS kepada media.
Mengapa mendadak muncul ancaman serius terhadap AS? Operasi peniadaan para tokoh Al-Qaeda dan Taliban selama ini terus dilakukan oleh AS dengan menggunakan pesawat tanpa awak (drones), yang dikendalikan oleh CIA.
Rep. Michael McCaul (R-Tex.), Ketua dari House Homeland Security Committee menyatakan "Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP, Al-Qaeda in the Arabian Peninsula) mungkin adalah ancaman terbesar bagi AS. Mereka faksi Al-Qaeda yang masih berbicara akan terus menyerang Barat dan memukul tanah air (Amerika). Jadi kita berada pada keadaan siaga tinggi," kata McCaul, dan dia  menekankan bahwa ancaman "sangat dekat."
Mengapa Yaman? Perwakilan Al-Qaeda di Yaman, yang tokohnya telah menjadi target diserang oleh Amerika dalam beberapa tahun terakhir, disimpulkan sangat mungkin untuk membalas  dendam tersebut. Mereka yang merupakan afiliasi dari Al-Qaeda kini menjadi kelompok teroris yang peling berpotensi melakukan serang, dibantu kelompok luar lainnya. Kelompok ini menyatakan bertanggung jawab atas kegagalan upaya meledakkan sebuah pesawat terbang dari Detroit pada hari Natal tahun 2009.

Kemungkinan Imbas Serangan ke Indonesia

Pada masa lalu, antara tahun 2002 s/2009 Indonesia telah menjadi ajang medan perang antara teroris dengan AS serta negara-negara Barat lainnya. Dari beberapa dokumen yang terungkap saat perencanaan serangan ke JW Marriott Jakarta, terungkap dua tokoh teroris asal Malaysia DR Azhari (Alm) dan Noordin M Top (Alm), menyebutkan target di Jakarta adalah Negara AS, Inggris, Australia dan Italy. Akhirnya yang dipilih adalah hotel Marriott dan Ritz Carlton sebagai simbol AS, serta Kedutaan Besar Australia. Target lainnya, Sekolah Internasional dan kantor City Bank Jakarta batal diserang.
Nah, kini dalam rangkaian informasi intelijen yang diterima oleh badan intelijen AS, Homeland security, CIA, FBI dan NSA, memang mereka menyatakan kemungkinan serangan lebih fokus ke Timur Tengah dan Afika Utara. Akan tetapi sebaiknya pemerintah dan aparat keamanan di Indonesia juga waspada, karena bukan tidak mungkin Al-Qaeda atau organiosasi afiliasinya bisa saja menyerang di Indonesia dimana kasus pemboman pernah terjadi disini.
Kini, didalam penjara di tanah air masih ditahan beberapa nama besar pelaku teror yang pernah mengikuti pendidikan di Afghanistan, mereka umumnya dahulu tergabung dalam kelompok Jamaah Islamiyah. Misalnya Abu Tholud yang dihukum 8 tahun penjara, dia adalah inisiator pembentukan Al-Qoidah Serambi Makkah bersama Amir Abu Bakar Ba’asyir (ABB) yang dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (16/6/2011), divonis 15 tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan tuduhan terlibat terorisme. Juga Tony Togar alias Indra Warman (tertangkap dan divonis 20 tahun),  yang juga merupakan eks peserta pelatihan militer di Jalin Jantho.
Selain itu tercatat nama Fadli Sadama (tertangkap di Malaysia), dipenjara dan berhasil melarikan diri dari Tanjung Gusta beberapa waktu lalu, terlibat perampokan CIMB Niaga Medan. Terungkap bahwa uang hasil dari merampok tersebut akan digunakan untuk mendanai teror untuk menyerang aset-aset asing beserta warga negara asing  yang berada di wilayah Pekanbaru dan Lampung. Nama besar lainnya yang kini dipenjara adalah Umar Patek, anggota Jemaah Islamiyah, diyakini menjabat sebagai asisten koordinator lapangan pada saat pemboman klub malam di Bali, Indonesia pada 2002, yang menewaskan 202 orang, termasuk tujuh warga negara AS. Patek adalah ekstraksi Arab Jawa.
Selain yang tertangkap, ada tokoh yang kini masih bebas dan dinilai sangat berbahaya. Zulkarnaen alias Aris Sumarsono alias Daud, menurut catatan NCTC (National Counter Terrorism Center), Zulkarnaen adalah salah satu tokoh Al-Qaeda di Asia Tenggara dan merupakan salah satu dari sedikit orang di Indonesia yang memiliki kontak langsung dengan jaringan teror Osama Bin Laden.
Dia salah satu dari militan Indonesia pertama yang pergi ke Afghanistan untuk pelatihan  menjadi ahli  sabotase. Zulkarnaen diketahui memimpin sepasukan Laskar Khos disebut militan, atau "pasukan khusus," yang anggotanya direkrut dari sekitar 300 orang Indonesia yang dilatih di Afghanistan dan Filipina Zulkarnaen adalah anak didik Abdullah Sungkar, pendiri JI dari pesantren Al-Mukmin dimana Zulkarnaen dan militan senior lainnya mengikuti pendidikan. Kepala Zukarnaen dihargai oleh pemerintah AS USD 5 juta.
Zulkarnaen, yang nama aslinya adalah Aris Sumarsono juga disebut Daud oleh sesama kelompok militan. Pejabat intelijen AS dan pejabat Indonesia menyatakan bahwa Zulkarnaen menduduki jabatan sebagai kepala operasi  Jemaah Islamiyah (JI) setelah  Riduan Isamuddin (Hambali) ditangkap di Thailand. Dia diyakini telah membantu mengatur pertempuran di kepulauan Maluku pada 1990-an. Dia diyakini sebagai pemimpin tim elit yang membantu melaksanakan serangan bom bunuh diri di Hotel JW Marriott Jakarta yang menewaskan 12 orang pada tahun 2003 dan membantu mempersiapkan bom yang menewaskan 202 orang di Bali tahun 2002.
Para tokoh yang masih dipenjara dan yang belum tertangkap bukan tidak mungkin masih berhungan, mengingat dari beberapa kasus di Lapas, para bandar Narkotika juga terungkap mempunyai alat komunikasi. Dari beberapa informasi sejak 2009, memang telah terjadi pergeseran target teroris, mereka tidak menyasar AS dan negara Barat, tetapi lebih fokus menyerang polisi yang disebut sebagai thagut.
Informasi AS dan Barat lainnya kembali menjadi target sebenarnya terungkap saat penangkapan kelompok teror yang menamakan dirinya Haraqah Sunny untuk Masyarakat Indonesia (HASMI) dengan  pimpinan jaringan  adalah Abu Hanifah (sudah tertangkap di Solo). Menurut Kadiv Humas Polri (saat itu Irjen Pol Suhardi Alius), menjelaskan,  "Orientasi kelompok ini adalah Konsulat Jendral Amerika di Surabaya, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Plaza 89 di depan Kedutaan Besar Australia di mana ada Kantor Freeport di sana, dan Mako Brimob di Jalan Srondol, Jawa Tengah," katanya.
Dari fakta penyerangan fasilitas AS dan negara Barat lainnya, serta masih adanya tokoh teror yang bebas, serta adanya dokumen ancaman terhadap fasilitas AS, nampaknya kewaspadaan terhadap keamanan Kedutaan Besar perlu ditingkatkan. Kelabihan kelompok teror menurut teori perang karena inisiatif ditangan mereka, sehingga dengan langkah desepsi, mereka sulit dijejaki. Peledakan terahir terhadap Vihara Ekayana adalah bukti, mereka bisa menyerang target apapun.
Kini diperlukan kesadaran bersama bahwa antisipasi Polri dan BNPT dalam menghadapi ulah terorisme saja tidak cukup, law enforcement tidak bisa menyelesaikan masalah terorisme. Yang dibutuhkan adalah kesadaran dan keterlibatan masyarakat sebagai early warning. Para tokoh (key informal individual) perlu dilibatkan untuk menyadarkan mereka yang sudah terkontaminasi.
Kekerasan bersenjata tidak cukup menyelesaikannya, Amerika dengan teknologi tingkat tinggi (drones) memang berhasil membunuh para tokoh teror termasuk Osama bin-Laden, tetapi kini terbukti jaringan Al-Qaeda serta organisasi afiliasinya kembali menyuarakan ancaman keras yang meresahkan dan mengusik rasa aman warga AS. Terorisme belum selesai bagi AS, bahkan kini muncul ancaman baru Home Grown Terrorism. Kita berdoa semoga tidak ada fasilitas asing kembali diserang di tanah air, yang pasti kita tidak suka Indonesia kembali menjadi ajang tempur mereka.

kebocoran informasi intelijen


Pelajaran dari Bobolnya Data Intelijen AS oleh Snowden

10 August 2013 | 7:55 am | Dilihat : 87
Kantor NSA di Arlington, Virginia

Kasus Edward J. Snowden seorang pekerja kontrak dari National Security Agency (NSA) yang membocorkan rahasia intelijen Amerika menjadi berita besar dan hangat dikalangan intelijen dan media. Bak kisah spionase yang sering kita dengar, kasus tersebut menunjukkan bahwa seketat apapun sebuah kerahasiaan dijaga, rata-rata badan intelijen serta pejabat pemerintahan dimanapun berada yang menyimpan dokumen rahasia dalam sebuah sistem teknologi  internet tetap mempunyai kerentanan dan kerawanan. Terlebih apabila data tersimpan asal-asalan.
Pembocoran rahasia oleh Snowden yang ditayangkan The Guardian, terjadi kurang dari 24 jam setelah seorang prajurit Amerika, Bradley Manning pada akhir Juli 2013 dinyatakan bersalah karena menyerahkan 250.000 dokumen berita dari Deplu dan Dephan AS kepada WikiLeaks. Dokumen yang dibocorkan Snowden termasuk pedoman NSA untuk program XKeyscore,yaitu  program penjejakan yang canggih, memungkinkan analis lembaga tersebut untuk memonitor dan melacak pencarian komunikasi internet di seluruh dunia.
Para pembocor tersebut hanyalah pegawai kelas bawah. Manning, bertugas di sebuah pos terpencil di Irak, berhasil men-download kabel berita dari Kedutaan Besar Amerika di Beijing, kemudian mengirimkan ke WikiLeaks. Sementara Snowden, yang bekerja di sebuah pangkalan yang kecil di Hawaii, berhasil men-download tanpa terdeteksi sistem pengamanan intelijen,  dokumen-dokumen tentang operasi pengumpulan bahan intelijen dan keputusan pengadilan rahasia Amerika.
Snowden yang berhasil melarikan diri dari kejaran aparat keamanan AS, tiba di Bandara Sheremetyevo Moskow dari Hong Kong pada tanggal 23 Juni,  sejak itu, dia tinggal di area transit bandara dengan persetujuan dari Kremlin. Diperkirakan dia mendapat persetujuan para pejabat Rusia dalam menunggu proses suaka.  Di area transit tersebut,  Snowden mengadakan pertemuan dengan pengacaranya, Mr Kucherena, beberapa pejabat Rusia dan perwakilan dari organisasi hak asasi manusia.
Rusia pada awal Agustus akhirnya memberikan suaka sementara untuk Snowden, yang mana keputusan itu membuat khawatir serta geram pihak AS. Presiden Obama pada hari Rabu (7/8/2013) menyatakan membatalkan rencana pertemuannya dengan Presiden Rusia, Putin, yang semula direncanakan awal bulan September di Moskow. Gedung Putih menyebutnya  kurangnya "kemajuan signifikan" pada beragam isu-isu kritis.
Pengamat menyatakan beberapa isu kemarahan AS, yaitu ketidak sukaan AS terhadap dukungan Moskow kepada Presiden Suriah, Bashar Assad dalam perang sipil Suriah. Kedua negara juga berselisih atas tindakan domestik Rusia pada hak-hak sipil, perbedaan pendapat dengan rencana pertahanan rudal AS untuk Eropa, masalah  perdagangan, keamanan global, serta persoalan hak asasi manusia. Menurut pihak Rusia, pembatalan pertemuan pembatalan pertemuan pembatalan KTT bilateral AS-Rusia, seperti dikatakan penasihat Luar Negeri Presiden Putin, Yuri Ushakov itu jelas terkait dengan kasus Snowden, sebuah situasi yang tidak dirancang oleh pihak Rusia.
Sekretaris Pers Gedung Putih Jay Carney mengatakan Snowden adalah faktor yang membatalkan pertemuan puncak, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Dikatakannya, AS akan terus menekan Rusia untuk mengekstradisi Snowden ke Amerika Serikat untuk menghadapi tuduhan menyebarkan informasi rahasia yang tidak sah ke publik.  Pemerintahan Obama telah menekan Rusia untuk tidak memberikan suaka kepada Snowden, dan telah mendesak negara-negara lainnya untuk tidak menerimanya, terutama di Amerika Latin, di mana Venezuela, Bolivia dan Nikaragua telah mengatakan mereka bersedia untuk memberinya suaka.
Sementara Presiden Vladimir V. Putin, telah menyatakan posisinya dengan tegas bahwa mereka tidak punya niat untuk mengekstradisi Snowden ke Amerika Serikat. Putin yang mantan agen intelijen KGB mengatakan bahwa Snowden adalah hadiah Natal yang tidak diharapkan, datang dengan sendirinya ke Rusia. Pada saat kembali berkuasa, Putin dikenal kemudian mengadopsi sikap yang sangat nasionalistik dan lebih berani bersikap konfrontatif secara terbuka terhadap Amerika Serikat,  dibandingkan presiden sebelumnya Dmitry Medvedev.
Putin menyatakan bahwa Rusia tidak ingin hubungannya dengan AS menjadi terganggu, merugikan serta membahayakan bocornya ionformasi bagi negara AS. Putin juga  memberi syarat basa-basi kepada Snowden bahwa dia harus menghentikan kegiatan politiknya. Menurut Putin, saat ditanya, Snowden menyatakan, "Tidak, saya ingin melanjutkan pekerjaan saya. Saya ingin berjuang untuk hak asasi manusia. Saya percaya bahwa Amerika Serikat melanggar norma-norma tertentu hukum internasional, mengganggu kehidupan pribadi," katanya.
Snowden kini adalah sumber intelijen berklasifikasi A-1, nilainya dimata intelijen sangat tinggi, rahasia yang dimilikinya sangat bernilai. Yang jelas pemerintah AS sangat gundah dan khawatir dengan terpegangnya Snowden ke pihak Rusia, dengan memiliki data intelijen yang tak terkira. Sikap marah dan frustrasi pemerintah AS terlihat dengan pernyataan pembatalan KTT Obama-Putin. Ini membuktikan bahwa AS sedang menjumpai masalah yang sangat serius. Bagi Rusia, entah Snowden hanyalah pembelot semata atau mungkin dia adalah orang yang dibina oleh  GRU (Badan Intelijen Rusia), yang pasti Rusia mendapat ikan yang sangat gemuk tanpa susah payah. Rusia akan mendapat informasi matang (intelijen) apa materi briefing bagi Presiden Obama, yang 70 persen bersumber dari NSA.
Dari kasus fatal intelijen Snowden,  pelajarannya lebih terletak pada bagaimana pemerintah AS tergelincir dalam upayanya untuk melindungi rahasia yang nampaknya sangat sensitif di era Internet. Dari pernyataan Snowden yang prinsip "Pemerintah AS telah melanggar norma-norma tertentu hukum internasional, mengganggu kehidupan pribadi," bisa diperkirakan, akan ada pukulan lanjutan  terhadap pemerintah AS, yang bukan tidak mungkin dapat menggoyahkan pemerintahan Obama. Bagi Amerika, ada larangan badan intelijennya melakukan penyadapan terhadap warganya, oleh karena itu kemungkinan secara tertutup penyadapan dilakukan oleh badan intelijen luar sebagai mitranya, agar tidak melanggar hukum. Apabila diungkap semuanya oleh Snowden, nampaknya pemerintahan Obama diperkirakan akan bergetar.
Para agen rahasia selalu mencari dokumen yang berklasifikasi rahasia/sangat rahasia. Kelemahan sistem penyimpanan dokumen yang berklasifikasi rahasia kini banyak tersimpan di internet. Wakil Menteri Pertahanan AS, Ashton B. Carter menyatakan, bahwa kesalahannya, terdapat sejumlah besar informasi rahasia yang terkonsentrasi di sebuah tempat. Selain itu kelemahan dimilikinya akses seseorang untuk mengunduh data rahasia, memberi peluang terjadinya kebocoran. Seharusnya untuk mengakses sebuah data harus ditangani dua orang seperti mereka yang duduk di silo nuklir,masing-masing dengan kunci terpisah yang diperlukan untuk meluncurkan rudal.
Contoh kebocoran lain adalah operasi intelijen CIA dengan drones (pesawat tanpa awak) yang menyerang tokoh teroris  di Pakistan dan Yaman selalu bocor. Setiap operasi selesai berlangsung, selalu diberitakan oleh media lokal serta tersebar di twitter tentang korban sipil. Para pejabat pemerintah di Amerika mengatakan bahwa menanggapi kerentanan serta kerawanan bocornya data rahasia, Presiden Obama telah menetapkan kebijakan dan  berhasil mengurangi  jumlah "rahasia baru" yang diklasifikasikan oleh pemerintah pada tahun 2012 sebesar 42 persen, menjadi sekitar  72.000 buah dokumen.
Kesimpulannya, Amerika Serikat sebagai negara yang sangat majupun masih memiliki kerentanan serta kerawanan dalam menyimpan data rahasia pemerintah serta badan intelijennya. Kerawanan yang selalu penulis ingatkan, menurut pengertian ilmu intelijen adalah kelemahan yang apabila dieksploitir oleh lawan akan menyebabkan ketidak berdayaan bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. Oleh karena itu penulis hanya dapat mengingatkan, para pejabat di Indonesia, khususnya badan intelijen serta pemegang data rahasia sensitif sebaiknya jangan menyepelekan sistem pengamanan dokumen.
Dalam intelijen terdapat pengamanan, personil, pengamanan material, pengamanan informasi dan pengamanan kegiatan. Nah dikaitkan dengan fungsi intelijen, apakah para pejabat pernah mendapat briefing intelijen soal pengamanan?. Disarankan, dilakukan pemeriksaan sekuriti terhadap hal-hal tersebut di tiap-tiap kementerian dan instansi terkait, agar kita tidak kebakaran jenggot nantinya setelah sekian tahun dokumen rahasianya bocor. Amerika saja yang demikian super maju kini kebakaran jenggot hanya oleh ulah pegawai kecilnya. Semoga bermanfaat.

Lebih waspada... karena mereka beroperasi di tempat yang tidak seharusnya

Perseteruan Antara Polisi dan Teroris makin Merucing

Buronan kasus terorisme Poso, Santoso alias Abu Wardah

Pada beberapa minggu terakhir, kembali terjadi penyerangan terhadap anggota Polri. Yang menarik dan perlu dibahas lebih teliti, kasus penembakan dua anggota Polri terjadi di Tanggerang Selatan yang wilayahnya melekat dengan ibukota negara. Selain itu pada waktu yang hampir bersamaan terjadi teror bom di Vihara Ekayana, pada hari Minggu (4/8/2013) Jakarta. Penulis mencoba merangkai fakta dan informasi dalam sebuah ulasan.
Penembakan pertama menimpa Aipda Patah Saktiyono (53), anggota polisi lalu lintas Polres Metro Jakarta Pusat pada hari Sabtu (27/7/2013), yang terjadi di Jalan Cirendeu Raya, Ciputat, Tangerang Selatan. Peluru menembus dada kirinya, beruntung nyawa Aipda Patah bisa diselamatkan.
Penembakan kedua terjadi pada hari Rabu pagi (7/8/2013), aksi penembakan menimpa Aiptu Dwiyatna (50), anggota Satuan Pembinaan Masyarakat (Bimas) Polsek Metro Cilandak yang tewas ditembak kepalanya oleh dua orang tidak dikenal. Korban ditembak  di Jalan Otista Raya, Ciputat, Tangerang Selatan, sekitar pukul 05.00 WIB. Pelakunya adalah dua orang tak dikenal yng mengendarai sepeda motor.  Saat ditembak, Aiptu Dwiyatna sedang menuju Lebak Bulus untuk memberikan ceramah dengan mengendarai sepeda motor dinas Suzuki Smash 2643-31 VII.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Rikwanto, “Kami menduga ini masih berhubungan. Kami akan selidiki dan minta keterangan saksi. Dugaan teroris itu rangking pertama dan latar belakang rangking ke dua," kata Rikwanto di Polda Metro Jaya. Selanjutnya dikatakan, "Teror kepada polisi ini masih berlangsung terus. Pelaku-pelaku lama akan terus merekrut orang-orang baru. Apalagi, orang yang sudah punya keyakinan garis keras, sulit berubah. Jadi militan. Mereka cenderung merekrut orang-orang baru yang bisa dicuci otaknya, dengan dalil-dalil tertentu," kata Rikwanto.
Penembakan kedua anggota aktif Polri tersebut menambah daftar panjang penyerangan baik kantor polisi maupun personilnya. Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo sejak bulan Desember 2012 mengakui, teroris telah mengubah sasaran atau target dengan mengincar polisi. Dugaan aksi tersebut sebagai tindakan balasan atas menguatnya  penangkapan sejumlah terduga teroris. Polisi masih menyelidiki penembak kedua polisi tersebut yang belum terungkap.
Sementara itu, Densus 88 Mabes Polri pada hari Jumat (9/8/2013) pukul 22.45 WIB telah menangkap Muh Saiful Sabani alias Ipul (26) di Yogyakarta.  Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Ronny F Sompie menjelaskan, Ipul merupakan jaringan teroris kelompok Rohadi dan Sigit Indrajit.
Dikatakannya, "Ipul bersama Ovie, Rohadi, Imam, dan Sigit yang telah tertangkap sebelumnya, berlatih membuat bom yang dilatih Sepriano alias Mambo," kata Ronny kepada Sabtu (10/8/2013). Ipul,  juga ikut dalam latihan militer (i'dad) di Gunung Salak, pada Januari 2013, selain bertugas mencari dana untuk halaqoh yang dipimpin Rohadi.  Disebutkan oleh Ronny,  Ipul juga mengetahui perencanaan teror terhadap Umat Buddha dan Kedubes Myanmar, yang dapat digagalkan.
Nampaknya serangan ke Vihara Ekayana memang dilakukan oleh kelompok teror lama dan baru, hanya motifnya perlu dibuktikan. Menurut Kepala BNPT itu adalah teror bukan soal Rohingya, sementara dari indikasi serta fakta intelijen (the past), menurut penulis, bom Vihara adalah pesan solidaritas terhadap Rohingya. Kita tunggu penjelasan Polri setelah diungkap tuntas pastinya.
Dari kasus diatas, walau belum dapat dibuktikan penembak anggota polisi pelakunya kelompok teroris, tetapi indikasi sudah menunjukkan kearah teroris. Para anggota kelompok teror itu terus melakukan perekrutan dengan menggunakan dalil-dalil agama agar lebih meyakinkan. Bagi mereka yang sudah tercuci otaknya (brain washing), sulit untuk kembali dinormalkan. Itulah salah satu hambatan yang dialami oleh BNPT dalam melaksanakan deradikalisasi.

Beberapa Serangan Teror Terhadap Polisi

Perkembangan kasus penyerangan anggota Polri di dekat wilayah Jakarta serta pemboman Vihara Ekayana di Jakarta mestinya tidak boleh dipandang enteng. Jakarta adalah ibukota negara, situasinya haruslah kondusif. Kini sedikit banyak agak terganggu dengan tiga kasus tersebut. Memang Jakarta beberapa kali telah dicemarkan dengan ancaman bom misalnya ancaman teroris dari  Depok, di Bekasi, Cawang dan Tambora. Pergeseran target utama (prominent target) dari Gereja, Masjid dan bahkan presiden kini memang bergeser menjadi lebih spesifik polisi, yang nampaknya memang perlu diteliti lebih jauh.
Dari catatan, telah terjadi serangan serius terhadap polisi. Misalnya,  serangan terhadap Polsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara pada 22/9/2010 (tiga polisi tewas). Pemboman Pasar Sumber Arta, Jalan Raya Kalimalang, Kota Bekasi dekat Pos Polisi Sumber Aretha (30/9/2010). Pemboman Masjid di kompleks Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon, Jawa Barat, belasan anggota polisi luka-luka termasuk Kapolres Cirebon AKBP Heru Sukoco (15/4/2011).
Penembakan pos pengamanan Lebaran di  Gemblegan, Solo, Jawa Tengah (16/8/2012), dua anggota Polri luka-luka. Pelemparan granat pos polisi di Gladak Solo (18/8/2012). Penembakan anggota polisi di Pos Polisi di Singosaren Plaza, Serangan, Solo, seorang anggota polisi tewas.
Pada Kamis (20/12/2012) sekitar pukul 10.00 Wita, anggota Brimob-Polda Sulawesi Tengah telah diserang oleh sekelompok orang bersenjata di Desa Kalora, Tambarana, Poso Pesisir, daerah Gunung Klora, empat anggota Brimob tewas. Tanggal 16 Oktober 2012, dua anggota polisi Poso ditemukan tewas mengenaskan, dikubur dalam satu lubang di daerah Tamanjeka, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah. Pada hari Kamis pagi (15/11), rumah dinas Kapolsek Poso Pesisir Utara, Iptu Taruklabi, ditembaki orang tidak dikenal. Kapolsek berhasil selamat.
Senin Pagi (22/10/2012) di Pos Polisi Kelurahan Kasintuwu Kecamatan Poso Kota Utara diserang dengan dua bom rakitan.  Sebagai akibat ledakan tersebut, seorang anggota lalu lintas Kepolisian Poso Bripda Rusliadi dan Muhammad Akbar, seorang petugas satpam Bank Rakyat Indonesia, mengalami  luka-luka. Terjadi serangan bom bunuh diri ke kantor Polres Poso, tidak ada korban di kalangan polisi, pelaku tewas (3/6/2013). Dan kini terjadi penembakan terhadap dua anggota polisi, Aipda Patah Saktiyono pada (27/7/2013), dan Aiptu Dwiyatna (7/8/2013), seperti fakta tersebut tersebut diatas. Selain itu masih banyak lagi kasus serangan terhadap polisi.
Dari beberapa catatan serangan teror terhadap polisi, nampaknya memang polisi (kantor dan personilnya) kini menjadi target utama. Teori balas dendam oleh teroris pernah diucapkan oleh para pejabat terkait. Menurut penjelasan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai, dalam kurun waktu 13 tahun sudah 840 orang pelaku teror di Indonesia yang ditangkap, dimana sekitar 60 orang diantaranya ditembak mati di lokasi karena melawan petugas. Dari data ini nampaknya memang bisa saja para teroris yang masih hidup sangat membenci polisi dan akan terus membalas dendam.
Ansyad mengeluarkan teori pemberantasan terorisme yang dikatakannya masih terdapat kelemahan UU pemberantasan terorisme. Dinyatakannya, “Mestinya kalau kita mau betul-betul memberantas terorisme, kegiatan-kegiatan awal yang memprovokasi terjadinya terorisme itu harus bisa kita hentikan dengan dasar hukum. Tapi dasar hukum untuk itu kita belum punya. Jadi dasar hukum kita untuk ini adalah yang paling lembek dalam menghadapi aksi teroris,” katanya. Pertanyaannya, mengapa demi kepentingan bersama, apakah UU tersebut tidak dapat diwujudkan? Bagaimana upaya DPR, Polisi dan BNPT sendiri dalam mewujudkan revisi UU yang sudah ada?
Memang terjadi perseteruan antara Polisi dengan Teroris yang semakin meruncing. Kesan psikologisnya hanya polisi yang menangani masalah terorisme, hingga dicap para teroris  sebagai musuh utamanya,  inilah penyebabnya. Terorisme hanya bisa diselesaikan apabila semua pihak terkait mau dan bersatu menanganinya. Memang dalam mengemban tugas keamanan dalam negeri, Polisi harus siap menerima resiko jabatan berhadapan dengan kelompok radikal yang sudah berposisi sebagai pelaku teror. Polisi seperti kata Wakapolri, tidak perlu takut dalam melaksanakan tugas, karena itulah resikonya. Kekhawatiran lain, dengan masih belum ditemukan hilangnya 250 batang dinamit yang dipesan oleh PT Batu Sarana Persada (PT BSP) dalam pengiriman ke Cigudeg, Bogor, Jawa Barat sejak Kamis (27/6/2013) perlu mendapat perhatian khusus. Apabila bahan peledak tersebut jatuh ketangan teroris, jelas akan berbahaya.
Menurut penulis sebaiknya polisi harus jauh lebih waspada dalam melakukan pengamanan baik personil, materiil (kantor, markas), kegiatan dan informasi. Jangankan polisi, presiden sebagai simbol negarapun pernah dijadikan target oleh mereka, itulah faktanya. Teroris menjadi lebih diuntungkan posisinya, sebagai penyerang merekalah yang mempunyai inisiatif, polisi sebagai target mereka jelas tidak boleh lengah. Polisi tersebar dan belum tentu semuanya juga  alert dengan bahaya serangan teror. Bila lengah korban dikalangan polisi diperkirakan akan bisa  terus berjatuhan. Walaupun disisi lain Densus 88 juga terus mengejar mereka.  Jangan sepelekan mereka. Jangan sampai markas besar Trunojoyo  dijadikan target serangan atau pemboman, karena pasti akan meruntuhkan citra polisi. Menghadapi kelompok radikal yang nekat, rumusnya adalah ketegasan. Soal penyelesaian masalah terorisme dalam masalah strategi adalah bagian dari BNPT, karena memang itulah tugasnya. Selamat bertugas, tetap waspada.

Senin, 12 Agustus 2013

Kibarkan Merah Putih, dihadapan halaman tetangga kita


AMBALAT : Dalam kegiatan Operasi Tameng Hiu 2013 wilayah perbatasan di perairan Kalimantan Utara, KRI Sultan Hasanuddin-366 mendekat dan memeriksa keadaan Suar Karang Unarang, Senin (5/8/2013). Suar Karang Unarang adalah suar yang sangat vital keberadaannya karena sebagai tanda batas laut antara Indonesia dengan perairan Malaysia. Saat itu KRI Sultan Hasanuddin-366 berada pada radius 1000 yard dari suar.

Dari kejauhan, Suar Karang Unarang terlihat berdiri kokoh dengan benderanya yang berkibar. Mendekat ke suar, terlihat jelas bahwa kondisi bendera di puncak Suar Karang Unarang tidak lagi utuh, kencangnya hembusan angin dan cuaca laut yang ekstrim telah merobek bagian warna putih dan menyisakan bagian merahnya saja.

Kehadiran KRI Sultan Hasanuddin-366 menjadi momen tepat untuk mengibarkan kembali bendera merah putih di puncak Suar Karang Unarang. Melihat keadaan bendera merah putih seperti itu, Komandan KRI Sultan Hasanuddin-366, Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto, melaporkan kondisi ini kepada Asintel Guspurla Armatim, Kolonel Laut (P) Yeheskiel Katindiago yang onboard di KRI Sultan Hasanuddin-366 yang saat itu sebagai kapal markas Guspurlatim. Kemudian Asintel Guspurla Armatim memerintahkan untuk menerjunkan satu tim prajurit dengan menggunakan sekoci untuk melaksanakan penggantian bendera merah putih di suar.

Didahului dengan penghormatan, bendera lama digantikan dengan bendera yang baru, Merah Putih kembali berkibar di puncak Suar Karang Unarang. Menyongsong peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI ke-68 pada 17 Agustus 2013 mendatang, di puncak Suar Karang Unarang terus berkibar Bendera Merah Putih dengan pengawalan KRI Sultan Hasanuddin-366.

Rekan rekan Anggota POKDARKAMTIBMAS Jajaran Karang Satria Sub Sektor 2.15.

Para Anggota dan Pengurus jajaran 2.15 karang satria